BUTO CAKIL MBUJUNG LAKU(YANG SUKA MENGHALANG HALANGI)   Leave a comment


Buto Cakil alias Ditya Kalaprecaka atau Ditya Kalaplenthong juga disebut Gendring Caluring utawa Gendir Penjalin.

Kalo di Belanda dia disebut sebagai Dzackil Van Pethakilan, di Italy dinamakan Leonardo De Cakili, di Jazirah Arab dijuluki Osakil Bin Laden sedangkan Cakil yang tinggal di Gedung DPR dinamai “Cakil Rakyat”.

Cakil adalah tokoh yang sangat terkenal di jagad pewayangan. Sebagai tokoh antagonis Cakil mempunyai ke khasan yang unik yang tidak dipunyai oleh sosok-sosok antagonis yang lainnya

Perawakannya yang enerjik, kedua tangan dan kakinya selalu bergerak tak mau diam, bicaranya yang ceplas-ceplos melengking dan tanpa etika, serta selalu berupaya untuk mengitimidasi lawan bicaranya.

Sosok cakil hampir selalu muncul dalam setiap lakon pementasan wayang, sebagai lawan tanding bagi kesatriya yang hendak masuk hutan untuk bertapa / bersemedi.

Cakil dilukiskan sebagai tokoh penjaga hutan belantara yang akan menghalangi dan menghadang setiap kesatria yang mau bersemedi di dalamnya. Ia umumnya ditemani oleh tiga raksasa yang berwarna tiga macam. Hal ini terkadang dihubungkan dengan simbolisasi nafsu-nafsu manusia, yakni nafsu ammarah, lawwamah, sufiah, dan muthmainah.

Cakil digambarkan sebagai raksasa yang lincah, mahir pencak, dengan gaya berkelahi yang diselingi tarian yang khas.

Yang jelas dalam perang (biasanya disebut dengan “Perang Kembang” atau “Bambangan”) ia selalu mati terkena keris pusakanya sendiri. Sebagai perlambang bahwa yang mampu menjinakkan (mengalahkan) nafsu-nafsu negatif dalam diri kita adalah diri kita sendiri, yaitu dengan jalan bersungguh-sungguh menjaga hati, membersihkan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, baik melaui ibadah-ibadah wajib maupun sunnah.

Cakil sebenarnya merupakan simbol-simbol nafsu negatif yang ada pada diri kita. Yang selalu mencoba menghadang dan menghalangi apabila kita mempunyai niat-niat mulia untuk melakukan kebajikan.

Dia akan selalu bercokol dan menjaga setiap pintu-pintu kebajikan, menyebarkan teror, mempengaruhi, mengitimidasi kita sehingga kita gagal dalam melakukan kebajikan tersebut.

Ketika kita ingin bersedekah maka dia akan mengompori sifat kekikiran kita. Saat kita hendak Sholat dia akan mengalangi dalam wujud kesibukan (karena pekerjaan) dan hiburan (seperti televisi dll). Sewaktu kita mau mengaji menuntut ilmu ke Majelis Taklim maka dia akan menghembuskan rasa malas dan mengantuk.

Dan bahkan bila akhirnya kita tetap mampu melakukan ibadah / kebaikan tersebut ia akan tetap mengecoh kita dengan menggelincirkan niat dalam hati kita itu dan menghembuskan sifat-sifat riya’, ujub, sum’ah, tidak ikhlas dan tidak kusyuk.

Pendeknya dalam setiap kebajikan yang hendak kita lakukan dia akan selalu muncul dan mengahalangi kita dengan berbagai cara.

Dalam Al-Qur’an (QS: Yusuf 53) Allah SWT berfirman :
“Innan Nafsa La Ammaarotun Bi Suu’”.
“Sesungguhnya Nafsu Itu Cenderung Mengajak Pada Kejahatan”.

Juga dalam QS: Al-Qiyaamah 2 :
“Walaa Uksimu Bi Nafsil Lawwaamah”
“Dan AKU bersumpah demi Nafsu yang Pencela (Mengompori / Mengitimidasi)”

Perang dalam menghadapi nafsu negatif (buto cakil) dalam diri kita sendiri adalah merupakan pertarungan yang sesungguhnya.

Dalam salah satu hadistnya pun Rasulullah menamainya sebagai “Jihaadul Akbar”, jihad yang terbesar yaitu melawan nafsu kita sendiri.

Semoga Allah memberi kekuatan, petunjuk dan kemudahan kepada kita semua. Agar kita bisa bertarung dengan gagah berani (ikhlas dan khusyuk) melawan nafsu-nafsu negatif yang ada dalam diri kita sendiri.

Sehingga pada akhirnya kita bisa menjadi pemenang yang sesungguhnya. Semua nafsu-nafsu negatif menjadi lebur, melebur menjadi satu nafsu yang indah, nafsu yang menyejukan, nafsu yang tentram, nafsu yang tenang yaitu “NAFSU MUTHMAINNAH”.

Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam QS: Al-Fajr 27-30:
“Yaa Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah, Irji’ii ilaa Robbiki Roodliyatan Mardiiyah, Fadkhuli fii I’baadi, Wadkhuli Jannatii”.
“Wahai jiwa / nafsu yang tenang, Menghadaplah kepada Tuhanmu dengan ridlo dan diridloi, Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, Dan masuklah kedalam surga-Ku”.

Posted Agustus 22, 2012 by fabiantactlest in seru2an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: