pesan dari bapake inyong   Leave a comment


Oleh : Faradila Puspita Ramadhani

Dalam Paruh waktu, ketika aku terlibat pembicaraan dengan ayahku….

 

“Berhentilah menangis, berhentilah menghardik ketidaksukaanmu terhadap segala aturan-aturan, atau kata-kata kasar. Kita bukan sedang tidak disukai melainkan diajarkan bagaimana menyukai hidup. lihatlah bagaimana tukang batu mengukir hingga menjadi patung, bahkan ia harus menghancurkan keras-keras beberapa bagian diaantaranya. Kita tidak pernah tahu tentang sebuah perjalanan, tapi kita diajak untuk bagaimana melalui perjalanan itu. jiwa kita harus terpotong demi pandang dan pijak yang nyaman. Nanti, ketika kamu beranjak menjadi sepertiku, kamu akan menemui kemagisan dari hidup ini. Kamu akan dipaksa untuk menjadi orang lain, yang bahkan tidak kaukenali sendiri. Lalu didepan mata, ilalang-ilalang itu berubah menjadi labirin-labirin yang akan membingungkanmu dari paruh perjalanan. Kita tersesat, pasti. Kita hilang, mungkin.

Kita ini sedang terjebak, dari kekuatan arus lautan eropa dan amerika. Maka kita butuh ayah yang seperti bebatuan, seperti karang yang mengajarkan bagaimana cara untuk bertahan, bukan pasrah untuk hanyut tanpa perlakuan-perlakuan. Badai sudah megah. Kita terjungkir balik tanpa arah. Kita terbawa oleh kata-kata “fuck you” atau “what the hell”, entah bagaimana ocehan bijak kenari di pucuk pohon pedesaan. aku tidak seberapa suka dengan lagu-lagu korea di ponselmu itu, lagu-lagu barat melankolis yang kamu dengarkan ketika hendak tidur, aku juga tidak suka kamu bercelana dan berbaju ketat, bukan karena apa, aku hanya ingin mendidikmu agar menjadi dirimu sendiri, tetap tegar dalam arus. Namun sekali lagi, aku tidak akan melarangmu, sebab disitulah kamu berpelajaran.

 

Bertahan, mempertahankan. Bukan tertahan dalam tawanan.

 

Kini dalam dewasamu, kamu mulai pandai berbicara, mengkritisasi pemikiranku dan membandingkan dengan pikiranmu yang modern. Kamu tidak lagi bercerita tentang apa yang telah kamu alami di dunia luar, tapi berkisar tentang masalah-masalah dari dunia luar yang mendalam. Aku tidak lagi menjadi guru, tapi menjadi editor untuk beberapa yang rumpang dari bicaramu. Aku hanya menjadi pengingat dalam setiap kelupaanmu, pengisi dari jawaban-jawaban yang belum bisa kamu jawab, bukan sebagai penentu dari segala hal tentangmu. Sekali lagi, kecilmu biar aku yang menjadi tukang batu, remajamu biar aku jadi pelindungmu, maka dewasamu biar aku menjadi pengiringmu. Kelak, kamu akan mengenangku “aku ingin menjadi lebih dari ayahku”.

Posted September 27, 2011 by fabiantactlest in seru2an, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: